Cita-Citaku, Ya Profesiku …

 

Hmmm siang menjelang sore hari ini, seperti biasa menjalani agenda rutinan di sebuah sekolah SMA tempat saya berdomisili sementara waktu. Pada kesempatan siang itu, pada sesi mentoring bersama para siswa, yang kebetulan dalam satu kelas dijadikan 1 kelompok dikarenakan ada beberapa hal. Karena dari 3 kelompok dijadikan 1 kelompok, jadi cukup 1 aja yang menjadi mentor pada sesi mentoring siang itu.

Ditengah-tengah kelas yang tidak terlalu terang, kerena memang hampir semua jendela ditutupi dengan gordeng. Jadinya pencahayaannya kurang. Rekan saya yang menjadi mentor, pada sesi materi, menyinggung sedikit soal cita-cita. Ketika sebuah pertanyaan muncul “Apa cita-cita kalian?”, dan jawaban-jawaban mereka, itu mengingatkan saya dulu waktu masih seumuran dengan mereka.

Jawaban-jawaban mereka, tidak lain dan tidak bukan, yaitu sebuah profesi. “Saya ingin jadi polisi“, “Saya ingin jadi insinyur“, dan “Saya ingin jadi bla bla bla“. Hingga muncul sebuah idiom, cita-cita adalah sebuah profesi. Entah siapa yang mengajarkan, karena ssaya juga begitu dulu hehehe. Padahal cita-cita adalah sebuah impian besar dalam hidup seseorang, yang akan ia kejar selama hidupnya.

Membicarakan soal cita-cita ini, teringat saya dulu pernah melihat profil seseorang publik figur. Tapi saya lupa kapan melihat profilnya beliau. Beliau adalah seorang gitaris, di salah satu group band papan atas di tanah air. uniknya, ketika saya melihat profil beliau, cita-cita beliau bukanlah sesuatu yang berhubungan dengan musik. Tapi, ingin masuk surga. itulah cita-cita beliau. Pada saat itu saya kurang ngerti dengan maksudnya. Tapi ketika saya kuliah, saya baru nyadar apa itu sebenarnya cita-cita.

Seperti apa kata saya di awal, cita-cita adalah sebuah impian yang akan kita kejar selama hidup kita. Bisa jadi, cita-cita kita adalah visi hidup kita. maka ketika sebuah cita-cita adalah profesi, misal menjadi pilot, ketika sudah mencapai profesi tersebut habislah sudah semangat perjuangannya. Ibarat sebuah cerita komik, maka cerita hidupnya sudah selesai ketika meraih profesi yang didambakan. Setelahnya mungkin hanya sekedar senang-senang. Maka itu, milikilah cita-cita yang setinggi bintang sekalian. Biar cerita hidup itu panjang dan berarti.

Bagi seorang muslim, nilai individu kita ini bukan hanya dinilai dari kesholehan pribadi semata. Tapi juga kesholehan sosial. Ingat sebuah hadis Rasulullah saw bersabda, bahwa manusia yang terbaik adalah yang paling bermanfaat sesamanya. Maka kalau kita seorang muslim, milikilah cita-cita yang dimana orang – orang disekitar kita bisa ikut merasakan manfaatnya.

Ramatto

11 Februari 2016

Dipojokan Kamar 

 

7 Kesalahan Yang Harus Dihindari Pebisnis Online

20150110-kesalahan_bisnisPuji syukur bisa posting kembali di web ini, setelah sekian lama vakum. Walaupun pada postingan kali ini bukan tulisan saya, tapi in sya Allah tetap bermanfaat. Pada kesempatan kali ini saya coba ingin mengeshare ilmu yang saya dapat dari belajar di komunitas Online #KelasBisnis Indonesia. Dimana komunitas ini dimentori oleh Mas Elang Yudantoro . Dan materi yang akan saya share ini juga disampaikan oleh beliau langsung didalam forum online group telegram komunitas #KelasBisnis.

Semoga ilmu yang saya dapat ini bisa bermanfaat buat teman-teman pembaca yang sedang merintis usahanya. wabil khusus pelaku usaha online. Buat saya, yang merupakan pelaku bisnis online juga, mereka yang memilih jalan berwirausaha adalah sebuah pilihan yang mulia. Sebab kelak, mereka memilih menggaji orang dibanding menerima gaji. Lebih memilih memberi ketimbang menerima. makanya saya rasa, patut diapresiasi kepada mereka yang memilih jalan untuk membangun bisnis.  Continue reading “7 Kesalahan Yang Harus Dihindari Pebisnis Online”

Saya Ingin Jadi Kaya!!

Beberapa waktu lalu, salah satu kenalan saya harus masuk perawatan di rumah sakit istimewa (cuma istilah aja).heheh. Karena kondisi yg tidak memungkinkan hanya dirawat biasa.

Kenalan saya itu kebetulan sama seperti saya, mahasiswa perantauan. Jauh dri orang tua. Pada saat mau dibawa k RS, malapetaka terjadi. Hp’y hilang. Lantas saya dan satu teman lagi, dan dua orang bapak-bapak yg ikut membersamai. Sebab pihak keluarga rekan saya tersebut, belum bisa dihubungi.

Alhasil, untuk urusan administrasi sementara ditanggung jawabi oleh salah satu bapak-bapak yang ikut membersamai kita. Sebut aja bapak x, namanya. Ga penak klo saya menyebut namanya, soalnya sya lum dapat ijin untuk mencatut nama beliau hehehe.

Keesokan harinya orang tua rekan saya yang dirawat, datang ke solo dan bertemu sma saya dkk. Menjelaskan situasi yg terjadi. Berbicara panjang lebar, dan kemudian keluarganya menyusul ke RS.

Sepekan kemudian, saya baru bisa kembali menjenguk beliau. Ketika saya jenguk kenalan saya itu, ternyata kamarnya sudah dipindah. Hal yang membuat saya kaget adalah ternyata beliau dipindahnya ke kelas VIP.

Bingung. Sebab kalau melihat status sosial dan ekonomi keluarganya, termasuk keluarga yang pas-pas’an. Saya tanya ke rekan saya yg lain, ternyata yang memindahkan beliau ke kelas VIP adalah bapak x, yang dulu pertama kali menganter rekan saya untuk dirawat di rumah sakit.

Sungguh luar biasa beliau menurut saya. Maka saya semakin ga heran dengan kesuksesan beliau sebagai pengusaha konveksi. Usaha konveksinya, udah skala nasional. Maka tak heran, kalau Allah mewasilahkan rezekinya melalui beliau.

Melihat peristiwa ini, saya berasa mendapatkan dorongan lebih untuk memajukan usaha saya. Saya ingin jadi kaya. Karena dengan itu, saya bisa membantu banyak orang lain. Akan banyak pintu kebaikan yang bisa kita lakukan. Maka mulai detik ini, saya akan mencoba untuk memantaskan diri. Bahwa saya layak untuk diamanahi oleh-Nya, yakni harta saya menjadi wasilah untuk membantu orang banyak.

Pertentangan Idealisme

Lingkungan akademisi, seperti sekolah dasar, menengah, hingga perguruan tinggi adalah dunia yang akan penuh dengan idealisme. Idealisme terdiri dua kata, Ideal yang berarti sempurna atau paling baik, dan isme yakni paham atau aliran. Dimana ideal itu asal katanya dari idea, yang berarti pikiran, gagasan, atau pemikiran. Maka saya menarik sebuah kesimpulan dari idealism, suatu pikiran atau gagasan yang paling baik/sempurna menurut individu yang bersangkutan.

Idealisme buat saya adalah salah satu ciri sosok pemuda. Dan bukanlah hal yang buruk juga, klo kita punya idealism tersendiri. Namun yang menjadi persoalan, terkadang sulit bagaimana menempatkan idealism yang kita yakini ketika berhadapan orang lain. Disinilah kedewasaan seseorang biasanya akan terlihat, sebab salah satu ciri orang yang berpikiran dewasa, ia bisa menerima perbedaan idealism dengan orang lain. Dan bisa menerima perbedaan antara realita dengan idealismenya.

Setiap orang memiliki hak untuk memiliki idealismenya masing-masing. Namun, buruknya kadang idealism untuk dijadikan patokan untuk menilai orang lain. Apalagi sampai menghakimi. Wah-wah, menurut saya kalau udah seperti itu, sama aja memaksakan idealisme kepada orang lain. Jelas ini engga bisa bro, sis. Sebab kebenaran yang kita yakini atas pikiran kita sendiri, bukanlah kebenaran yang hakiki. Jadi idealism adalah suatu hal benar menurut versi mereka masing-masing.

Truz bagaimana dunk klo missal dalam kelompok, setiap individu punya idealismenya masing-masing? Klo dalam islam, diajarkan yang namanya bermufakat. Kita dianjurkan untuk bermusyawarah, untuk mencari jalan yang sekiranya baik untuk semuanya dan kecil mudharat-nya. Bukan yang pemimpin main dengan sekarepe dewe. Klo seperti itu, otokrasi. hehehe

Manusia, salah satu cirinya adalah makhluk social, yakni bermasyarakat. Dalam sebuah tatanan masyarakat, dimana berbagai elemen, suku, agama, kepentingan yang berbeda akan saling beradu. Masyarakat suatu kelompok yang majemuk, itu adalah sebuahh keniscayaan. Maka ketika perbedaan itu gagal disikapi, akan banyak terjadi konflik horizontal antara individu ditengah masyarakat.

SUdah sepatutnya setiap orang menghargai idealism yang diyakini oleh orang lain. Kita kudu meyakini, bahwa idealism mereka benar menurut pemikiran mereka. Sedangkan idealism kita, benar menurut pemikiran kita sendiri. Dengan begitu, kita bisa saling menghargai dan menerima setiap perbedaan yang ada.

Perbedaan itu adalah sunatullah. Bukan sautu probrelm yang harus dipusingkan. Justru sebaliknya, perbedaan adalah hal yang patut disyukuri. Seperti halnya muhajirin dan anshar. Muhajirin pandai berdagang, sedangkan anshor pandai bertani. Hehehe, jadi kalau banyak perbedaan, maka bermufakatlah. Bermusyawarahlah. Ojo main sekarepe dewe. Semoga perbedaan bukan alasan bagi kita untuk berperang, tapi justru untuk saling melengkapi satu sama lain. hehehe

By: Ramatto Livic

NUSANTARA MARKET: BE INDONESIAN !

Ramadhan 1436 H kemarin, menjadi sebuah momentum buat saya dan 1 rekan saya, sebut saja X. Kita merintis sebuah usaha, bernama “Nusantara Market”. Setelah sebelumnya masing-masing dari kita belajar bisnis kecil-kecilan. Hingga masing-masing dari kita mengambil momen Ramadhan kemarin, untuk mencari titik balik dari usaha kita masing-masing. Lahirlah “Nusantara Market

Seperti namanya, Market, pasar. Tapi kita membuka usaha ini bukan untuk membuka pasar tradisional. Tapi lebih kepada sebuah toko atau mini market. Lantas kenapa kami enggak memilih kata “Store”? kesan yang ditangkap terlalu wah, dan kelas atas banget. Kita ingin lebih sedikit diterima oleh setiap kalangan.

Kemudian “Nusantara”, saya ambil dari nama lain kepulauan Indonesia, Nusantara. Mengapa saya memilih nama karena sudah cukup familiar ditelinga masyarakat. Harapannya bisa lebih diterima oleh masyarakat. Dan masyarakat pun engga asing dengan “Nusantara Market

Pemilihan nama “Nusantara Market” ini juga berhubungan dengan visi yang kami bawa. Visi yang kita usung sebenarnya simple, ingin menjadikan toko penyedia dan memproduksi makanan dan minuman khas Nusantara (Indonesia) yang sehat dan berkualitas. Walaupun untuk awalnya, kami belum sanggup memproduksi produk sendiri. Hehehe, kurang modalnya sih 😛

Untuk mencapai visi kami, kami senantiasa mengusahakan menyediakan dan memproduksi makanan dan minuman yang sehat. Memakai bahan pengawet dan pemanis alami. Tidak memakai MSG. Mengutamakan kualitas ketimbang kuantitas. Kualitas produk diusahakan kualitas premium. Jika belum sampai taraf premium, akan coba kita tingkatkan secara bertahap. Namanya juga usaha pemula, semua itu perlu bertahap. Hehehe 😀

Sesuai dengan visi kami, produk-produk makanan yang kami jual di “Nusantara Market” adalah makanan dan minuman khas Nusantara. Sebagai permulaan usaha, kami mencoba bekerja sama dengan produsen-produsen local. Tapi bukan sembarang produsen, tetap kita melihat kualitas produknya. Karena kita juga menerapkan standarisasi produk yang kita jual. In sya Allah kedepan akan kami coba kembangkan menjadi produksi sendiri. Do’a kan nggeh hehehe 😀

Mengapa kami memilih produk-produk khas Nusantara ? Ini mungkin agak berbau idealism-nya seorang pemuda. Tapi pikirannya simple aja, kualitas produk-produk khas Nusantara sebenarnya ga kalah koq, dengan yang di impor dari luar. Hanya terkadang orang sulit mendapatkan produk khas dari daerah lain. Untuk itulah “Nusantara Market” hadir hehehe. Kami ingin menjadi solusi. Selain itu, kita ingin mengajak masyarakat untuk mencintai produk-produk local. Makanya slogan kami #100%Indonesia.

Sebagai penutup, jadi mari kita mengutamakan produk-produk local. Apalagi bentar lagi akan ada MEA. sebagai bagian dari masyarakat, minimal kita kudu menjadi masyarakat yang mendukung berkembangnya produk-produk local. Hal ini sepela, tapi sejatinya memiliki pengaruh besar terhadap perekonomian Negara. Heheh  DAN JANGAN LUPA, mampir ke toko kami, “Nusantara Market”. Info lanjut hub: Rahmat, 085642170947 (WA/LINE/SMS)

GURU KEHIDUPAN – 2

Suatu kali dalam pertemuan dalam halaqah, saya melihat satu sosok yang begitu pendiam. Wajahnya memancarkan keteduhan dibalik matanya yang memakai kacamata persegi. Didalam kelompok halaqah yang saya bina, dia tidak terlalu menonjol. Ditambah perawakannya yang berbadan kurus dan tidak terlalu tinggi.

Setiap sesi diskusi dalam pertemuan halaqah, ia selalu diam. Hampir selalu. Kecuali ketika saya, sebagai mentornya, untuk meminta mencapaikan pendapatnya di forum. Entah karena ia seorang yang pemalu atau memang pendiam. Sosok dia masih menjadi misterius buat saya.

Seiring waktu berjalan, akhirnya saya baru mengetahui bahwa adek baru saya itu adalah seorang hafidz 30 Juz. Sungguh luar biasa. Jadi semakin tahu, kenapa dia selalu pendiam dan pemalu di dalam halaqah serta senantiasa berhati-hati dalam bertindak dan berbicara.

Banyaknya ilmu terkadang seperti pedang yang memiliki dua sisi. Terkadang ia bisa membuat kita menjadi hina, tak kala timbul sebuah rasa bangga terhadap diri sendiri. Namun, ia juga bisa membuat kita menjadi mulia, diangkat derajatnya oleh Allah, tak kala ilmu menumbuhkan sikap rendah hati. Berilmu bukan justru membuatnya menjadi hebat, tapi justru akan semakin menyadari betapa bodoh dirinya sendiri.

Belajar bukan hanya sebatas kepada dosen di kuliah, guru dikelas, atau siapapun mereka yang kita anggap sebagai orang berilmu. Tapi anggaplah setiap orang yang kita temui, itu sebagai seorang guru kehidupan. Tak memandang umur, status social atau pendidikan mereka. Sebab hikmah, itu datangnya dari Allah SWT, manusia hanyalah perantara.

Membingkai Islam dengan Nasionalisme

Jika tidak karena sikap dan Semangat perjuangan para ulama, sudah lama patriotism dikalangan bangsa kita mengalami kemusnahan”

E.E.E. Douwes Dekker Danoedirdjo Setiaboedhi

Dalam tulisan kali saya tidak membahas perdebatan antara Islam dengan Nasionalisme. Karena sudah banyak kalangan yang memperdebatkan hal tersebut. Namun perdebatan bukan solusi, sebab perdebatan bukan aktivitas yang mencoba mencari titik temu. Melalui tulisan ini saya ingin mencoba menyelaraskan antara keduanya.

Islam adalah risalah diwahyukan kepada Nabi Muhammad saw. melalui malaikat jibril. Risalah yang akan menjadi petunjuk bagi seluruh umat manusia, baik pada zaman Rasulullah saw maupun umat manusia yang ada di zaman ini. Menurut Hasan Al Banna, Islam adalah agama yang komprehensif dan bersifat integral. Islam tidak hanya aqidah, ibadah, tapi juga hokum, system ekonomi, hingga Negara. Singkatnya, Islam adalah agama yang syumuliatul (baca: Menyeluruh).

Islam adalah agama yang tidak kaku. Terutama dalam hal-hal diluar ibadah. Ambil contoh dalam hal system pemerintah pada kepemimpinan Rasulullah saw, Abu Bakar Ash Shiddiq ra, dan Umar bin Al Khaththab ra. Pada ketiga masa tersebut, system pemerintahan Daulah Islamiyah yang berpusat di Madinah tersebut, tidaklah sama. Ada hal-hal yang baru, dimana hal tersebut belum ada di masa sebelumnya.

Islam pun dalam memandang –isme diluar islam tidak dalam perspektif sempit. Artinya Islam terbuka dan menerima terhadap –isme diluar islam, dengan mengambil kebaikannya dan membuang keburukannya. Termasuk dalam hal ini adalah Nasionaslisme, semangat kebangsaan.

Namun, kita tidak meng-generalisir latar belakang munculnya Nasionalisme setiap bangsa. Dan belum tentu, nasionalisme setiap bangsa berdiri diatas pondasi yang sama. Maka kita perlu melihat kepada sejarah bangsa yang bersangkutan. Dalam hal ini, saya mengambil Negara saya sendiri, Indonesia.

Masih ingat pelajaran sejarah, di bangku SMP? Kita sama-sama tahu, bahwa sebelum Nusantara dijajah oleh Kerajaan Protestan Belanda, Nusantara terlebih dahulu menghadapi gempuran imprealisme kerajaan katolik Portugis dan Spanyol. Mereka datang dengan membawa misi suci, dengan slogannya 3G (Glory, Golden, dan Gospel). Menduduki dan menguasai wilayah pribumi, untuk mengambil dan menyerap SDA, serta melakukan Kristenisasi terhadap masyarakat.

Nusantara pada saat itu sudah mayoritas Muslim, dan kerajaan-kerajaan yang bercorak hindu-Budha sudah terhapus dari peta Nusantara. Dan digantikan oleh kerajaan-kerajaan islam, Kerajaan Demak, Mataram, Samudra Pasai dll. Para sultan dibantu dengan para ulama, menentang imprealisme Katolik yang membawa misi suci 3G. Sebab, mereka diharuskan mempertahankan wilayah Nusantara (cinta tanah air). Mereka mempertahankan martabat mereka sebagai manusia, enggan dilecehkan dan diperlakuka semena-mena (Semangat Kebangsaan). Mereka juga enggan untuk berpindah agama dari Islam ke Katolik, sebab Islam bagi mereka adalah agama pembebas (Agama/Aqidah).

Kenapa Islam dianggap agama pembebas oleh masyarakat Nusantara? Sebelum Islam memasuki Nusantara, Budha-Hindu adalah agama mayoritas masyarakat Nusantara. Budha-Hindu memiliki konsep ummat, dengan membagi beberapa kasta. Dimana kasta tersebut, tidak akan berubah. Artinya, yang kaya akan tetap jadi kaya. Sedangkan yang miskin akan tetap menjadi miskin. Itulah mengapa Islam dianggap sebagai agama pembebas. Sebab dalam islam tidak ada kasta, dan semua manusia sederajat yang membedakan hanyalah rasa taqwa kepada Allah.

Latar belakang tersebut, adalah awal lahirnya Nasionalisme di Nusantara. Terlebih yang menjadi pelopor dari semangat Nasionalisme di Nusantara adalah para ulama. Termasuk juga para wali sanga. Para ulama-lah yang menjadi pelopor semangat nasionalisme ketika para penjajah datang ke Nusantara. Maka yang jadi pertanyaan adalah, bisakah umat islam Indonesia memperjuangkan Islam dengan membingkainya dalam semangan Nasionalisme?

Hal yang perlu ditegaskan adalah nasionalisme serta patriotisme bangsa Indonesia, lahir bukan sebab rasa kebanggaannya akan bangsanya. Atau kelebihannya. Seperti halnya Jerman, mereka merasa bangga sebagai bangsa Aria dan memandang remeh bangsa lainnya. Seperti masyarakat Itali, mereka adalah pewaris imperium besar, yakni Romawi. Tapi lahir dari perlawanan karena penindasan akan imprealisme yang mengusung 3G, yakni Glory (Kejayaan), Golden (Kekayaan), dan Gospel (Agama Katolik/Protestan). Jadi Nasionalisme serta Patriotisme bangsa Indonesia mengakar pada tiga hal, cinta Tanah Air, Bangsa, serta Agama.

Perlawanan Nusantara kepada Imprealisme ini memiliki beberapa kesamaan dengan perjuangan Rasulullah saw dan kaum muslimin ketika menghadapi Quraisy. Pertama, kaum Quraisy dan kaum Imprealisme melakukan penindasan yang semena-mena karena perbedaan keyakinan, agama. Walaupun bukan factor tunggal. Kedua, menghalang-halangi cahaya islam. Kaum Quraisy berusaha memadamkan cahaya islam dengan kejahiliyahannya. Sedangkan Imprealis berusaha menggantikan islam dengan katolik/protestan, politik kristenisasi.

Maka bagi umat islam Indonesia memperjuangkan islam dengan semangat nasionalisme, di era kemerdekaan saat ini adalah salah satu upaya kita, umat islam, melanjutkan perjuangan yang telah dirintis oleh para ulama terdahulu di Nusantara. Abdullah bin Mas’ud ra berkata, “Orang yang berbahagia (beruntung) adalah orang yang mengambil nasihat (Pelajaran) dari peristiwa yang dialami orang lain”. Makna pesan tersebut, kita jangan melupakan sejarah. Khusus bagi kita, umat muslim Indonesia, Nusantara atau Indonesia dibangun oleh sejarah panjang perjuangan para ulama dan para mujahid. Termasuk dalam hal ini adalah Nasionalisme dan patriotisme. Saya ingin menutup tulisan ini dengan statemen dari seorang tokoh perjuangan di Indonesia:

Jika tidak karena sikap dan Semangat perjuangan para ulama, sudah lama patriotism dikalangan bangsa kita mengalami kemusnahan”

E.E.E. Douwes Dekker Danoedirdjo Setiaboedhi

Refrerensi:

1. Risalah Pengantar Ikhwanul Muslimin Jilid 1, Era Adictira Intermedia

2. Api Sejarah Jilid 1, Ahmad Mansur Suryanegara

3. Majalah Inspire JN UKMI UNS, Edisi 12

Hasil = Usaha + Persiapan + Do’a

Menginginkan sesuatu itu mudah. I want. Tapi terkadang kita suka lupa, bahwa yang menentukan hasil bukan hanya sekedar ‘saya menginginkannya’, tapi rasa ingin ini perlu diaplikasikan menjadi usaha dan persiapan. Seperti halnya seorang atlet olimpiade, sang atlet kudu melakukan pemanasan yang maksimal. Agar otot-otot mampu menunjang ketika perlombaan berlangsung. Tidak hanya dengan persiapan, sang atlet pun mesti memberikan yang terbaik dalam menjalani perlombaan. Agar tujuannya menjadi yang terbaik mampu diraihnya.

Hal ini penulis alami sendiri. Ketika beberapa hari yang lalu mengikuti Daurah Marhalah (DM) 2 KAMMI di Malang. Agenda tersebut bukan main-main, sebab pembentukan AB (Anggota Biasa) 2 KAMMI dari AB 1 menuntut adanya kepemahaman dalam pergerakan KAMMI di masyarakat. Dalam SOP (Standart Operational Procedure) DM2, diberitahukan kepada setiap calon peserta DM2 untuk membaca buku refrerensi yang telah ditetapkan oleh perangkat DM2.

Hal-hal yang disiapkan oleh para calon peserta meliputi 3 hal, Jasmani, ruhani, dan ilmu. Persiapan jasmani meliputi kesiapan fisik, calon peserta diminta untuk olahraga rutin. Baik yang harian maupun mingguan. Seperti push up, sit up, dan jogging. Persiapan ruhaninya meliputi amal yaumi harian, tilawah, dzikir al matsurat, dhuha, qiyamu lail, dan shalat berjama’ah. Terakhir yag tak kalah penting adalah bekal ilmu. Panitia mengharuskan calon peserta untuk membaca buku-buku yang dijadikan refrerensi. Bekal ilmu ini agar calon peserta bisa aktif dalam berargumen dalam sesi FGD, tentunya argument yang jelas. Bukan hanya analisis dan opini pribadi, tapi memiliki refrerensi yang jelas.

Tapi penulis dalam menyiapkan persiapan ini kurang maksimal. Banyak sebabnya. Namun penulis tidak akan banyak beralasan. Sebab, persiapan yang kurang maksimal ini murni kelalaian penulis secara pribadi. Alhasil sudah bisa ditebak pada saat keikutsertaan dalam DM2 di Malang. Pada sesi FGD pertama, penulis mendapat teguran sacara tegas, bahwa argument penulis kebanyakan opini tanpa ada refrerensi yang jelas. Dan pada beberapa materi, penulis mengalami kekurangan refrerensi pada saat sesi FGD.

Namun, terlepas dari persiapan diri penulis yang kurang persiapan, penulis sudah memberikan usaha yang terbaik dengan bekal ilmu yang dimilikinya. Minimal setiap sesi penulis mampu berargumen walaupun hanya satu kali.

Keikutsertaan penulis DM2 tersebut, memberikan pelajaran yang berharga. Jika kita mengharapkan suatu hal yang besar, kita pun perlu persiapan yang tidak setengah-setengah. Tidak cukup dengan usaha yang maksimal, persiapannya juga harus maksimal. Tak lupa iringi setiap usaha dan persiapan dengan do’a dan ikhlas hanya untuk ridho Allah semata. 🙂

Event Perdana Hikari Publishing Tema “Religi”

DL 3 Mei 2015

Assalamu’alaikum, sahabat literasi, salam kenal semua.  🙂

 

Hikari Publishing adalah salah satu lini dari Indhis Group. Untuk mengawali berdirinya Hikari Publishing, yang akan ikut serta meraimaikan dunia literasi. Maka Hikari membuka event perdana dengan Tema “Religi”. Di mana nantinya akan ada beberapa sub tema yang bisa diambil.

Kenapa Religi? Karena seyogyanya, dalam aksara yang nanti dituangkan, selain bisa menghibur, juga bisa untuk muhasabah diri. Bermanfaat untuk orang lain sebagai jalan mencari Rida Ilahi. Bisa bernila ibadah. Sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui.

 

Nah, apa sih sub tema dari “Religi” itu sendiri? Yuk di cek :

 

1. Malu Kepada Allah

 

Rasa malu kita kadang kala hanya mengingat pada diri manusia. Malu tidak bisa membeli ini itu. Misalnya, ketika tetangga  punya mobil baru, kita malu karena tak punaya. Malu karena harta dunia. Sebenarnya boleh saja kita malu, tapi malu anggun yang berpusat pada Ilahi. Misalnya betapa malunya kita ketika melihat adik-adik kecil lebih lancar bacaan Al-Qurannya. Malu ketika melihat orang lain sangat menjaga pandangan. Berhijab dengan syari’. Malu karena Allah itu indah, karena bisa menumbuhkan semangat memperbaiki diri. Bukankan malu itu sebagian dari iman?

 

2. Allah Bersama Hamba-Nya

 

Jangan sedih dan susah ketika musibah menyapa. Yakinlah bahwa Allah itu selalu ada. Melihat, mengawasi. Dia bersama hamba-Nya yang mengingat dan berdoa. Karena segala cobaan diberikan sesuai dengan kadar kemampuan.

 

3. Romatisme Religi

 

Romantis dalam religi? Tentu, kata romatis tidak hanya dalam hubungan yang lazim terjadi dalam praktek pacaraan saat ini saja. Romantis dalam islam juga ada porsi tersendiri. Ketika cinta dibalut dengan akhlakul karimah, mengedepankan rahmat Ilahi. Betapa cinta itu lebih terasa ketika satuan hati bisa perpadu dalam ikatan suci. Molekuk-molekul rasa yang membuat hati membuncah. Yah, cinta yang berbalut labeh halal pasti memiliki sisi romantis tersendiri.

 

4. Meneladani Para Nabi

 

Saat ini, kaca yang terpakai dalam kehidupan sehari-hari. Hampir persekian persen, dominan orang-orang yang dijadikan contoh adalah para artis. Ikut gaya, tingkah laku yang ada. Wow. Boleh saja sih, asal dalam taraf wajar. Namun, sebagai muslimah yang baik, kenapa kita tak mencoba meneladai para Nabi? Merekalah yang selama ini menuntun dan memberi napas para muslimah. Meneladi kesabaran. Keteguhan hati, juga keimanan yang dimiliki. Figur yang memang sangat patut diteladani.

 

Syarat ketentuan dalam event ini adalah :

 

  1. Bisa diikuti seluruh warga Indonesia tanpa batasan umur.
  2. Berteman dengan aku Fb Hikari Publishing https://www.facebook.com/profile.php?id=100009266563876.
  3. Menjadi anggota Grup Sahabat Hikarihttps://www.facebook.com/groups/1415463618759192/?fref=ts.
  4. Jenis Tulisan cerpen bisa FTS atau FF, yang penting memiliki pesan moral.
  5. Naskah ditulis dengan EYD yang baik, belum pernah dipublikasikan di media cetak atau elektronik, serta tidak sedang diikutkan lomba.
  6. Naskah asli karya sendiri dan bukan plagiasi. Tidak mengandung unsur SARA dan Pornografi.

 

Ketentuan Naskah

  1. Naskah di ketika dengan kertas A4, TNR( Time New Roman) 12 pt, spasi 1,5. Margin normal. Justify (rata kana kiri). Halaman 3-5. Simpan dalam Microsoft Word 2003/2007.
  2. Diakhir naksah berilah biodata narasi maksilam 50 kata. meliputi nama, nama FB, alamat email, no HP, serta prestasimu dalam dunia menulis/karya yang sudah pernah diterbitkan (jika ada). 
  3. Naskah dikirim ke alamat : hikari_publishing@yahoo.co.id dengan Subyek #RELIGI(1) atau 2 dan seterusnya_Judul_Nama Penulis

Contoh.: Religi(3)_Imam Yang Kutunggu_Malida

 

Harap diperhatikan subyek pengiriman dan ketentuannya. Naskah dikirim dalam bentuk lampiran. Kalau tidak sesuai format maka tidak akan diupdate.

4. Sebarkan info ini pada teman literasimu minimal 20 orang, termasuk Hikari Publishing.

5. Akan diambil masing-masing 20-25 naskah per sub tema.

6. Naskah dikirim paling lambat tanggal 3 Mei 2015.

7. Update peserta bisa dilihat di Grup Sahabat Hikari.

 

 

Reward

  • Semua naskah yang lolos untuk dibukukan akan mendapat voucher penerbitan sebesaar Rp. 50.000,-
  • Mendapat E-Sertifikat dan diskon pembelian buku dari event ini.

Untuk Paket penerbitan bisa dilihat di sini :https://www.facebook.com/notes/1391686994483506/.

 

 

Yuk, ditunggu pastisipasinya untuk mensukseskan event perdana ini. Tuangkan aksara, berikan cerita yang mampu menginspirasi juga penuh barakah.

 

 

Salam Literasi

 

Hikari Publishing